fbpx

Paquita Genuschka : Dari Penyiar Radio Sampe Punya Bisnis Makanan

Entrepreneurs.id- Siapa yang tidak kenal wanita cantik dan tangguh ini, Paquita Genuschka merupakan penyiar senior di salah satu Radio ternama yaitu Prambors Radio. Selain aktif menjadi penyiar, Paquita Genuschka merupakan wanita tangguh yang merupakan pemilik restoran Bansan di kawasan Cipete Jakarta Selatan.  Paquita Genuschka yang akrab di panggil Genus ini akan berbagi kepada kita bagaimana cara membangun bisnis F&B miliknya.

Bisnis Yang Jauh Dari Background Sebagai Penyiar

Sumber instagram Paquita Genuschka

Paquita Genuschka merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV), dan bekerja sebagai penyiar di radio, karena hobinya dengan masak, Genus akhirnya mencoba membangun usaha F&B. “Aku percaya kalau kita melakukan sesuatu dengan cinta berasal dari hobi, berasal dari passion itu akan menghasilkan sesuatu yang memang bermanfaat buat diri sendiri dan bermanfaat untuk orang lain” ujar Paquita Genuschka.

Awal membangun bisnis ditahun 2014. “Jadi waktu itu aku siaran sebelum siaran aku jadi produser Morning Show di Prambors penyiarnya itu Nycta Gina, sama Indra Bekti.  Di 3 tahun aku jadi produser aku mikir kayak ngapain lagi disini yah”,  Ujar genus.

Akhirnya karena merasa kalau hanya menjadi produser akan mentok. Genus melakukan sesuatu yang selama ini tertunda yaitu bakat terpendam yang dimilikinnya yaitu memasak.

Sempat Bekerja Jadi Koki Sebelum Punya Restoran

Sumber instagram Paquita Genuschka

Sebelum punya bisnis F&B, Genuschka akhirnya memutuskan untuk mengambil short course memasak selama 2-3 bulan lamanya dan memberanikan diri untuk bekerja di dapur profesional. “Aku mengambil short course selama 2-3 bulan, setelah itu aku memberanikan diri untuk bekerja di dapur profesional, dan sempat magang di hotel Sultan”, ujarnya.

Menurut Genus, itu merupakan pengalam berkesan karena baru pertama kalinya ia merasakan berdiri 9 jam. “Di dapur panas banget, pakai baju cheaf  yang proper”, Ujarnya.

Setelah selesai magang  Genus akhirnya mulai mencoba membangun bisnis catering. “aku bikin catering karena aku berpikir kalau klien aku tuh pekerja kantoran, yang ingin makan sehat, tetapi tidak mau makan hambar dan akhirnya aku mengolah makanan enak tetapi dengan nilai gizi yang juga masih bagus” ,ujar Genus.

Awal Mula Berdirinya Bansan

Bansa merupakan kedai pertama Genus yang dibangun bersama temannya. “Aku berdua dari SMA memang sudah bersahabat kami berdua punya pattern, dan lifestyle, hobi makan yang sama, Akhirnya keluarlah sebuah mantra kalau kita nanti harus buka restoran bareng, karena kita sering makan berdua”. Ujar Genus. Dan pada akhirnya ditahun 2018 Bansan berdiri.

Terus Melakukan Riset Dan Test Food

Setelah Bansan berdiri, kendala terbesar Genus adalah menemukan makanan yang bisa membawa besar nama Bansan, sekaligus bisa membawa impact terhadap orang lain. Untuk mendapatkan itu Genus mulai melakukan riset, dan test food terus menerus. “Kamu harus percaya sama produk yang kamu jual ibaratnya kalau kamu aja engga percaya sama produk kamu gimana orang lain mau percaya sama produk kamu, karena selera makan setiap orang juga berbeda-beda”, Ujarnya

Genus berpikir bahwa dia harus dapat menemukan cara bagaimana menggabungkan selera orang dengan idealisme. Menurut Genus kalau hanya mengikuti selera orang kamu itu pasti kerja engga akan senang. Dengan melakukan test food Genus merasa bisa menemukan titik tengah terhadap makanan yang disajikan. “Menurutku dari test food kita bisa ambil saran-saran yang kurang baik misalkan, kepedesan, keasinan atau bahkan nasinya kelembekan jadi kita bisa tau dari komentar orang-orang”, Ujar Genus.

Percaya Pada Ilmu Dan Kepercayaan Diri

Saat kamu sudah mulai berbisnis F&B, ilmu dan kepercayaan diri merupakan hal yang mesti kamu miliki. “Aku percaya si, dari segi rasa karena ilmu dan kepercayaan diri yang kamu punya itu akan menjadikan produk jualan kamu memiliki  value yang baik”, Ujar Genus.

Menurut Genus, dalam berbisnis F&B kita jangan terlalu dengerin orang tapi jangan tutup kuping juga supaya insidenya bisa menjadi sebuah input yang bagus. “ Jadi jangan terlalu dengerin orang tapi jangan tutup kuping juga gitu supaya inside nya juga ya bisa menjadi sebuah input yang bagus untuk kedepannya”, Ujarnya.

Sempat Ingin Berjualan Burger

Sebelum membuka Bansan ternyata Genus sempat berpikir ingin menjual burger, namun Genus merasa tidak percaya diri, karena dia merasa sudah banyak resto burger yang terkenal dan sulit untuk disaingi, seperti Lawless, dan Byurger. “ Jadi hobi ku itu mengolah steak dan daging burger bisa dibilang favorit aku, cuman kalau masak balik lagi idealisme, dan deman masyrakat, orang Indonesia, nasi mindsetnya kalau misalkan kamu bisa bikin burger yang udah seenak Byurger seenak Lawless tidak masalah”, ujar Genus sambil tersenyum.

Akhirnya Menemukan Menu Makanan Yang Tepat

Sumber Internet

Berkat riset dan test food yang dilakukan oleh Genus, dan pada akhirnya Genus yakin akan mengembangkan Bansan sebagai resto makanan ala Jepang. “Pada akhirnya aku, dan partnerku memilih nasi sebagai olahan menu untuk resto aku, karena kita suka banget nongkrong makan tuh di restoran Jepang, dan akhirnya aku memutuskan Bansan akan menjual menu olahan Jepang”, kata Genus.

Karena sudah memutuskan akan menjual menu makanan olahan Jepang yaitu rice ball. Genus mulai  mempelajari cara jualan yang dilakukan Eatlah salah satu pelopor rice ball, hanya dengan bermodalkan kedai sekecil pos satpam  dan perbantuan grab food,go food namun mereka bisa membuat orang beli setiap hari seramai itu. “ Disitu aku akhirnya berpikir bahwa memang pola hidup orang sekarang cepat, mereka sibuk dan mereka ingin makan yang enak dan simple, nasi ayam goreng menjadi pilihan aku, karena aku melihat kultur dari kita kecil sama ibu kita juga dikasih nasi sama ayam goreng.  Akhirnya menu pertama yang aku bikin di Bansan adalah Oji Chiken Namban, dan alhamdulilah Bansan bisa bertahan selama 2 tahun hanya dengan 3 menu saja 2 nasi ayam goreng, dan 1 lagi daging”, ujar Genus.

Strategi Marketing Yang Dilakukan Bansan

Dalam melakukan pemasaran Genus sangat beruntung karena 50% marketing bansan itu terjadi di Prambors. “Aku manfaatkanlah, apa yang aku punya dengan setiap aku siaran aku selalu menyebut-nyebut Bansan”, Ujar Genus.

Selain dengan memanfaatkan Prambors, Genus berpendapat bahwa digital marketing seperti Facebook Ads, Instagram Ads, Goggle Adsens sangat membatu dalam memasarkan brand untuk menarik konsumen. “Sama seperti yang semua orang lakukan yang pasti sekarang akhirnya kembali lagi ke digital platform”, Ujarnya

Genus pun berpesan bahwa dengan menghadiri seminar entrepreneurs.id kamu akan bisa mempelajari dan mendalami lagi tentang digital marketing. “Selain itu kamu tidak usah pusing jika merasa kesulitan untuk menerapkan startegi digital di bisnis kamu, banyak jasa yang bisa membantu kamu seperti Pipematic,Jovelo, dan Jendral Konten sebuah agency yang bisa membantu bisni kamu menuju digital.

Menggunakan influencer pun bisa menjadi salah satu pilihan pemasaran yang baik, namun kamu harus bisa menentukan influencer yang cocok untuk kamu. Seperti food vlogger atau kamu bisa melakukan endorse kepada pada selebgram yang bergerak di makanan.

Nah, itu tadi kisah Paquita Genuska seorang wanita yang sanggup menjalankan banyak peran, seperti menjadi penyiar radio, memiliki resto Bansan sangat menginpirasi kamu para pengusaha muda. Dari kisah yang Paquita Genuska bagikan kita dapat menyimpulkan bahwa untuk membagun sebuah usaha F&B kita perlu :

  1. Kesampingkan background kamu apa
  2. Percaya diri pada ilmu dan kemampuan yang kamu miliki
  3. Jangan berhenti belajar
  4. Lakukan riset dan test food secara baik
  5. Temukan partner bisnis kamu
  6. Pelajari ilmu digital marketing

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events