fbpx

Eatlah : Bisnis Fast Food dengan Modal Kecil Hingga Sukses Punya 17 Outlet

Inovasi di dunia kuliner emang gak ada matinya. Satu lagi nih tempat makan yang jadi tren di kalangan pecinta kuliner, yaitu Eatlah. Buat kamu yang belum tahu, gak ada salahnya deh cicipi sajian kulinernya. Eatlah sendiri adalah brand usaha makanan yang memakai saus telur asin (salted egg) yang khas di atas menunya.

Suksesnya street food ini gak lepas dari peran Michael Chrisyanto, Charina Prinandita, dan Riesky Vernandes. Selama menempuh pendidikan di Singapura, tercetus dalam pikiran mereka buat jadikan makanan sehari-hari di Singapura sebagai ide bisnis di Indonesia. Hasilnya, banyak orang yang antusias dengan inovasi mereka tersebut.

Melihat ini, mereka pun memperluas jaringan pemasarannya dengan membuka banyak gerai di Jabodetabek dan Bandung. Bahkan, lingkup pemasarannya udah merambah ke online lewat Go-Food dan Grab Food.

Penasaran, gimana Eatlah bisa sesukses itu? Yuk cari tahu lewat ulasan berikut ini.

Awal mula lahirnya Eatlah

Instagram Eatlah

Menurut Michael Chrisyanto Eatlah adalah suatu makanan yang inspirasinya didapat waktu dirinya sekolah di Singapura. “Jadi dulu aku sekolah di singapura, jadi gimana caranya salted egg chicken rice, menu utama kita ini bisa balik ke Indonesia, biar orang Indonesia bisa cobain,” ujar Michael

Karena dulu salted egg chicken rice ini, di sana (Singapura) kayak comfort food banget kalau lagi homesick, ingin sesuatu yang rasa Indonesia.

Setelah itu, akhirnya kita bawa ke sini, coba di-develop resepnya. Mungkin prosesnya itu selama 8 bulan, dan itu pakai tes dulu ke keluarga, teman-teman atau segala macam, baru dari sanalah kita berani untuk menjual dan menyewa tempat kecil di pasar PIK. Tempat ini luasnya paling cuma 4×3 meter persegi, di situ kita bawa dapur.

Dengan modal seminim mungkin, kita mulai jualan dan dimasukin ke Go-Food. Jadi pertamanya gitu.

Eatlah sebuah makanan fast food tapi bukan junk Food

Instagram Eatlah

Konsepnya adalah casual comfort food. Jadi kita bisa bilang fast food, tapi bukan junk food. Eatlah adalah fast food yaitu makanan yang sangat cepat. Misal, kalau orang lagi meeting di kantor terus lapar dan mau makan apa, kita mau orang itu mikir Eatlah. Jadi kayak yang cepat dan mudah untuk di-delivery. Konsepnya lebih ke arah situ sih, cuma tetap comfort food.‍

Berawal dari 1 outlet minimalis hingga punya 17 outlet

Awal mula berdirinya Eatlah pada Juni 2016, dengan satu outlet di Food Plaza PIK, dan  hingga sekarang Eatlah sudah punya 17 outlet.

Karena keterbatasan modal Eatlah mencoba membuka 1 outlet dengan konsep delivery. “Untuk pertamanya, kita masih mengikuti konsep awal yaitu mencoba sebisa mungkin, si Eatlah ini di-delivery. Kita enggak butuh space yang besar, yang penting cukup untuk memasak, setelah itu gimana caranya makanan ini bisa sampai ke tangan customer, yaitu dengan Go-Jek”, ujar Michael.

Michael dan kedua kawanya merasa selama perjalanan Eatlah di 2 tahun ini sepertinya Eatlah sudah siap membuka resto dan mulai membuka outlet baru

Michael mengatakan bahwa di tahun 2018 mereka mulai ekspansi di mal, “karena kita merasa sudah perlu menstabilkan pasar dengan pasar yang baru, yaitu pasar orang dine in. Dan gimana orang mau dine in? Tentu mereka ingin tempat yang nyaman untuk duduk dan nongkrong, makanya kita mulai coba di mal. Dan outlet-outlet kita yang baru pun sudah mulai ada tempat duduk yang memadai” Ujar Michael.

Memiliki Visi ingin di kenal di Indonesia dan Internasional

Instagram Eatlah

Saat kamu memulai bisnis pastinya kamu akan mempunyai kompetitor, begitu pun dengan Eatlah Mungkin banyak orang berpikir kalau kompetitor Eatlah adalah salted egg brand yang lain. Tetapi kalau melihat visi Eatlah itu adalah gimana ada fast food buatan anak Indonesia yang bisa masuk pasaran ke seluruh Indonesia bahkan Internasional. Karena kita enggak punya lho sebagai orang Indonesia, fast food yang bisa diterima di luar (negeri), visi kita tuh seperti itu.

Jadi, kalau dilihat in terms of kompetitor, siapa sih brand Indonesia yang seperti itu? Orang akan melihat, secara branding sangat baik, dan bisa masuk pasar Internasional. Jadi bukan salted egg brand lain.

Menggunakan strategi marketing membagikan 100 porsi secara gratis setiap kali opening outlet

Startegi marketing yang dilakukan Eatlah terbilang hebat, Eatlah rela membagikan 100 porsi makanan secara gratis agar konsumen mencoba terlebih dahullu

Michael menjelaskan sebenarnya sesimpel begini, menurut aku, strategi kita selama ini “cobain deh makanan kita, kalau kamu coba dan suka, kamu pasti balik.” Dari situlah di mana setiap kita opening outlet, selalu membagikan free mungkin 100 (porsi) per outlet.

Tetapi intention kita itu bukan untuk viral, of course kita ingin viral. Tapi motif utamanya adalah, buat orang-orang yang belum pernah cobain Eatlah bisa cobain dululah, kalau suka pasti balik.

Michael menegaskan bahwa jangan takut untuk membuang marketing budget, karena itu bukan kasih-kasih for free yang enggak akan balik lagi. Itu akan balik ke kita dalam bentuk sales.

Menjadikan Instagram sebagai alat marketing

Instagram Eatlah

Michael menjelaskan bahwa, semua konten dan marketing digital kita, so far terpusat di Instagram. Dan kita sangat besar di Instagram, karena dari pertama mulai pun channel yang digunakan hanya Instagram, karena gratis, dan untuk kita yang start small, Instagram juga channel yang baik.

Dan kita coba sebaik mungkin untuk connect dengan audiens di Instagram. Kita coba mengerti apa yang mereka suka lihat di Instagram. Jadi kita suka mengajak mereka untuk engagement, dan bukan satu arah, di mana selalu promo, Kita enggak mau kayak gitu.

Kita pernah mengadakan kuis untuk bantu namain the next Eatlah. Jadi followers kita ikut engage di kontes-kontes ini. Itu adalah salah satu cara untuk keep a good relationship with our followers and customers.

‍Peran penting konten untuk Eatlah

Michael mengatakan bahwa konten sangat berpengaruh. Karena generasi muda sudah sangat paham dengan penggunaan media sosial. Dan sekarang sebagian primary target market itu anak-anak media sosial, yang mungkin berumur 15 sampai 35 tahun.

Tapi semakin ke sini, karena visi Eatlah memang menjadi fast food, kita harus mulai memikirkan gimana menargetkan orang yang enggak melihat media sosial. Dari situlah baru membesarkan strategi marketing, apakah dengan mengikuti event, atau berkolaborasi dengan printed magazine. Tetapi digital media, of course channel nomor satu kita.

Saat akan memulai membuat konten Eatlah hanya berfokus pada target market Eatlah. “Jujur untuk research itu benar-benar targeted research. Sehingga, kita tahu siapa target market, dan mereka itulah orang-orang yang biasa ditanya untuk pendapat tentang apa yang mereka suka lihat di media sosial. Dan kebanyakan, generasi kita enggak suka di-push dengan promosi, enggak suka konten hardselling. Dan kita menghindari konten semacam itu di media sosial kita”, ujar Michael

Menggunaka influencer sebagai alat marketing

Selain menggunakan media sosial, Eatlah pun menggunakan jasa influencer untuk mempromosikan Eatlah, namun tidak untuk endorse, atau paid endorse.

“Untuk kerja sama itu ada, dalam artian, kita percaya kalau kita enggak suka endorsepaid endorse, karena merasa kalau bayar orang untuk reviewof course they will say good things. Jadi kita lebih ke yang “cobain aja”.

Menurut Michael mereka hanya butuh mencoba makanan Eatlah saja. “Jadi cobain aja, kalau memang benar enak dan you will give us a good review. Jadi win-win solution. Mereka dapat makanan, kita dapat review bagus kalau mereka memang suka. Lebih ke kayak gitu sih kalau sama influencer,” jelasnya

Menjadi media cetak sebagai alat marketing

Karena keterbatasana media sosial Michael tetap menggunakan media cetak sebagai alat promosi Eatlah. “Seperti yang aku mention tadi, karena visi Eatlah sebagai fast food, kita juga ingin mencapai generasi yang enggak bermain media sosial, seperti generasi orangtua kita yang enggak punya Instagram atau Facebook. Itulah keterbatasan media sosial karena mungkin ada orang-orang yang enggak tech friendly. Sedangkan, sesuatu seperti koran itu sifatnya lebih mass market,” ujarnya

Tips dari Michael untuk kamu yang ingin memulai bisnis F&B

Michael berpesan kalau bisa mulai bisnis itu jangan start dengan modal yang banyak, menurut aku seperti itu sih. Karena banyak anak zaman sekarang yang mungkin cukup uangnya dan mereka memulai bisnis misal membuat restoran atau coffee shop yang besar.

Seperti Eatlah sendiri kita memulai bisnis ini dengan modal 45 juta rupiah, jadi per orang itu 15 juta rupiah dan itu pun kita masih pinjam dari orangtua, karena dulu kita baru lulus. Masak pun, kita pakai alat masak yang ada di rumah, yang kita pinjam dari orangtua. Kalau itu menghasilkan barulah kita bisa scale up dari sana.

Kita bisa pakai yang ada dulu, dan sekarang semua teknologi itu sangat membantu. Enggak perlu punya toko yang besar. Waktu kita pertama mulai semua berbasis di Go-Jek, semua orang bisa pesan dari Go-Jek, dan kita hanya butuh space 2×3 untuk dapur saja, basically untuk memasak saja, dan itu dengan harga sewa yang sangat murah, per bulannya hanya 3 juta Rupiah. Dari situlah kita benar-benar belajar, yes you can make it meskipun dari modal yang sedikit. Persepsi orang itu harus punya duit untuk memulai bisnis, itu salah.

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events