fbpx

Yoyok Rubiantono : Dari Tukang Servis AC Hingga Berbisnis Panci Omzet 3 Miliar Perhari

Entrepreneurs.id– Siapa yang tidak kenal Yoyok Rubiantono, seorang pria kelahiaran Cepu Jawa Tengah ini merupakan salah satu sosok pengusaha yang berhasil, ia pun merupakan pemilik dari PT. Yoshugi Media Group, perusahaan yang ia dirikan sendiri. Bagaimana kisah keberhasilan Yoyok dari hanya seorang anak desa hingga menjadi seorang Milyarder, yuk simak kisahnya

Uang pendaftaran kuliah kurang

sumber: intagram Yoyok Rubiantono

Yoyok merupakan sosok yang mandiri dan memiliki mental yang kuat, untuk membiayai kuliahnya Yoyok tidak membebani kedua orang tuanya, Yoyok mencari pekerjaan dengan skill yang dimilikinya. “memang sejak SMP saya sudah membatu Ayah saya untuk bekerja di bengkel” ujar Yoyok.

Karena kepandainya Yoyok berhasil diterima masuk di salah satu universitas negeri ternama di Jogja yaitu Universitas Gajah Mada (UGM), yang menariknya Yoyok mengumpulkan uang dengan bekerja menjadi seorang servis AC dan mesin cuci untuk mencukupi biaya pendaftaran kuliah, namun pada saat ingin mendaftar kuliah, uang yang Yoyok kira cukup ternyata kurang. “Jadi, uang yang saya bawa itu saya kira cukup untuk mendaftar, ternyata masih kurang Rp 20.000 untuk biaya administrasi, dan pada saat itu saya tidak memiliki uang sama sekali, alhamdulilah ada orang baik dibelakang saya yang  menolong saya, karena saya terus terang kepadanya kalau uang pendaftaran saya kurang Rp20.000” Ujar Yoyok.

Berkat bantuan orang tersebut akhirnya Yoyok bisa menempuh kuliah di UGM.

Sempat berkerja di beberapa perusahaan ternama.

Sebelum menjadi pengusaha panci, pria lulusan Teknik Elektro UGM ini sempat bekerja di beberapa perusahaan ternama. Sebut saja Panasonic, General Electric, hingga Danone. Namun, karena Yoyok suntuk dan ingin lebih dekat dengan keluarga, ia tak takut untuk resign dan mencoba hal baru, yakni berjualan.

Memilih Resign dan Mencoba Hal baru

Dalam memilih usaha Yoyok berpikir bagaimana cara mendirikan sebuah usaha dengan Effortless yang tidak terlalu besar, namun memiliki omzet yang besar, bermodalkan keyakinan akhirnya Yoyok memutuskan untuk kembali ke jalur yang iya ingin besarkan yaitu Digital Marketing.

Awal mula membangun usahanya Yoyok hanya bermodalkan iklan melalui Google Adsense dengan website kemudian melakulan general traffic. “ Saya dibantu ke2 orang teman saya, mulai membuat website, blog dan kemudian general traffic dari SEO selama bertahun-tahun”. Ujarnya

Berhasil Mendirikan Perusahaan dan Tidak Membuatnya Berhenti Belajar

Sumber: Instagram Yoyok Rubiantono

Akhirnya di tahun 2012 Yoyok berhasil mendirikan sebuah CVA Company yang pertama di Indonesia. Di sekitar tahun 2013-2014 Yoyok menyiapkan diri untuk belajar dan ilmu yang Yoyok pelajari adalah paid traffic, media buying. “Saya belajar tentang paid traffic, dan media buying saya belajar di situ di coursenya Charles di Singapura”, ujarnya. Hingga saat ini PT. Yoshugi Media Group menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.

Perluas Target Pasar dengan Facebook Ads

Yoyok mulai berjualan secara online dengan promosi di Facebook. Keputusannya untuk berjualan online alih-alih membuka toko seperti kebanyakan orang di tahun 2006, tentu bukan tanpa alasan. Yoyok ingin go international—dan Facebook adalah jawabannya.

Yoyok bisa menjangkau orang di seluruh dunia dengan Facebook. Efeknya, profit yang didapat jauh lebih besar daripada sekedar berjualan secara offline dengan toko fisik.

Namun, Yoyok tidak langsung berjualan begitu saja di Facebook. Ia melakukan riset pasar mengenai target audiens dan apa yang mereka butuhkan terlebih dahulu. Sia-sia saja bukan kalau ia menjual sesuatu yang tak dibutuhkan?

Walaupun belum sebesar sekarang, di tahun 2006 Facebook sudah menunjukkan potensinya sebagai calon media sosial terbesar di dunia. Dan Yoyok tahu benar akan potensi ini. Maka dari itu, ia memilih membuat Facebook Ads dan beriklan di Facebook.

Yoyok menganggap kalau beriklan di Facebook Ads bisa dilihat orang di seluruh dunia tanpa perlu biaya mahal. Sementara, kalau memasang iklan panci secara tradisional —misalnya, di televisi, radio, atau baliho— biayanya itu terlalu mahal, tapi dengan hasil yang tidak sebanding karena hanya dilihat oleh orang Indonesia. 

Meski biaya beriklan di Facebook Ads tidak mahal, Yoyok tidak gegabah untuk menaruh semua uangnya di sana. Ini ia sengaja lakukan agar tidak boncos. Maka ia mulai dengan budget kecil terlebih dahulu untuk melihat respons pasar.

Yoyok awalnya mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu saja. Baru setelah melihat respons yang baik, perlahan budget iklan dinaikkan menjadi Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta.

Tak berapa lama kemudian, ternyata respons pasar terhadap iklan pancinya itu sangat luar biasa. Sehingga menghasilkan profit penjualan panci yang tak kalah luar biasanya. Akhirnya, Yoyok percaya diri untuk beriklan di Facebook Ads dengan budget yang sangat besar.

Salah satu rahasia kesuksesan bisnis Yoyok ini adalah karena Unique Selling Point atau keunikan dari semua produk yang ia jual. Mulai dari kualitas produk yang memang baik, harga yang bersaing, pemberian diskon, hingga customer service yang memuaskan.

Jadi, Yoyok itu tak hanya menjual panci, tapi juga menjual keunikan dan kualitas. Inilah yang membedakannya dengan penjual panci lainnya.

“Orang luar negeri itu harga nomor dua, sedangkan kualitas itu nomor satu,” jelas Yoyok.

Berhasil Memaksimalkan Profit dengan Website

Dengan beriklan di Facebook saja, sebenarnya profit Yoyok sudah terhitung besar. Akan tetapi, ia masih belum puas. Ia ingin bisnisnya bisa menyentuh profit milyaran. Sehingga ia harus memutar otaknya untuk mencari celah apa yang bisa dimanfaatkan.

Untungnya, Yoyok menemukan celah tersebut dalam bentuk website. Ia yakin bahwa kombinasi website dan Facebook Ads bisa menjadi gerbang menuju profit milyaran yang diinginkan. Akhirnya, Yoyok memutuskan untuk membuat website toko online dan berjualan berbagai produknya disana.

Nah, setelah memiliki website, Yoyok mulai mengeluarkan minimal Rp 1 milyar untuk budget Facebook Ads. Bahkan, saat Black Friday, ia bisa mengeluarkan hingga Rp 1,8 miliar per harinya hanya untuk iklan saja, lho. Jumlah yang tidak sedikit, bukan?

Namun, semua kenekatan Yoyok itu terbayar manis. Website yang ia manfaatkan untuk menarik konsumen berhasil mengubah budget iklan Rp 1 miliar menjadi omzet Rp 2,5 miliar per harinya! Ternyata, Yoyok benar. Facebook Ads dan website adalah duet maut yang sangat menguntungkan.

Setelah kesuksesan besar ini, Yoyok mulai mencoba-coba platform lain untuk beriklan dan menerapkan strategi Digital Marketing pada websitenya. Ia ingin menjangkau lebih banyak audiens dan meningkatkan profitnya lebih tinggi lagi.

“Pertama harus website. Platform lain itu hanya tempat interaksi dan menjangkau audiens agar mau klik link menuju website,” kata Yoyok.

Nah, itu tadi kisah dari Yoyok Rubiantono banyak hal yang bisa diambil dari kisahnya yaitu,

  1. Jangan takut mencoba.
  2. Berani berbeda.
  3. Tekun dan bermental kuat.
  4. Lakukan riset mendalam pada sesuatu hal yang dapat membangun usaha mu.
  5. Jangan berhenti untuk belajar.
  6. Manfaatkan internet dan teknologi.

Lakukan ke 6 hal tersebut agar kamu bisa berhasil seperti Yoyok Rubiantono

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *